• | author:  jse yuwono – arkeologi ugm |

    Tags: , ,

  • | author:  jse yuwono – arkeologi ugm |

    Tags: ,

  • | author:  jse yuwono – arkeologi ugm |

    Kawasan karst adalah aset dan sekaligus catatan panjang dari sepenggal sejarah bumi dan kehidupan di suatu wilayah. Sebagai aset, kawasan ini memiliki beragam keistimewaan. Bentang eksokarstnya unik  dan berbeda dengan wilayah sekitarnya. Di ruang endokarstnya, keunikan-keunikan lain semakin banyak dijumpai. Ragam bentukan gua, lorong-lorong sungai bawahtanah, dan ornamen-ornamen batuan yang indah hanya dapat dijumpai di sini. Bahkan tak terpungkiri jika kawasan karst menjadi salah satu “lumbung air” yang sangat menentukan eksistensi makhluk hidup, dari masa ke masa. Secara arkeologis, kawasan karst ibarat “ensiklopedi” kehidupan purba yang sarat informasi.

    Kawasan karst Sukolilo di Kabupaten Pati adalah salah satu aset geokultural di wilayah utara Jawa Tengah. Potensi arkeologisnya sudah mulai terungkap melalui survei awal tahun 2008 oleh PEKINDO,  berupa sejumlah besar situs gua dan data artefaktual (jse yuwono & greg d. kuswanto, 2008). Secara makro, Sukolilo memiliki posisi penting dalam pengungkapan sejarah penghunian wilayah utara Jawa, khususnya di Perbukitan Kapur Utara (Perbukitan Rembang), melengkapi hasil-hasil penelitian arkeologis yang selama ini lebih terkonsentrasi di Tuban.

    Tags: , ,

  • | author:  jse yuwono – arkeologi ugm |

    Titik-titik merah adalah sebaran situs-situs tua (Prasejarah), titik-titik hijau dari masa sesudahnya (Hindu-Buddha: Klasik). Trend-nya jelas, dari perbukitan turun ke dataran graben yang lebih aksesibel. Sementara sebagian penghuni masa Klasik lainnya masih tetap menjadi highlander, dengan memilih zone Wonosari Basin yang dalam skala lokal lebih menguntungkan dibandingkan lokasi-lokasi perbukitan di sekelilingnya. Membandingan karakter, jumlah, dan massa monumen-monumen candi antara wilayah bawah dengan atas, muncul asumsi bahwa para penghuni Klasik Gunungkidul sudah sangat paham bahwa daya dukung tanah vertisols yang kaya lempung dan memiliki kemampuan kembang-kerut tinggi, sangat merugikan kestabilan monumen dengan massa besar. Itukah alasan kenapa candi-candi di Gunungkidul kecil-kecil dan tidak banyak? Disamping alasan-alasan lainnya, satu hal ini (perbedaan daya dukung tanah) tetap harus dipertimbangkan untuk menilai mengapa corak bangunan candi di Gunungkidul dan daerah aluvial sekitar Prambanan jauh berbeda.

    Tags: , ,

  • | author:  jse yuwono – arkeologi ugm |

    TAK SAMA TAPI SERUPA ~ Dua kawasan bersejarah ini adalah sebagian materpieces bagi studi permukiman masa Klasik (Jawa Kuna) di Jawa, meskipun keduanya memiliki perbedaan corak tinggalan. Borobudur lebih ke situs pemujaan, sedangkan Trowulan adalah situs ibukota kerajaan dengan komponen yang jauh lebih komplit. Tapi dari pola aliran (drainage pattern) keduanya mirip. Pemilihan tapaknya serupa. Konsekuensi pemilihan lahan seperti ini memang ada:  harus bisa mengatasi limpahan air agar bebas dari genangan dan kondisi tanahnya tidak  terlalu lembek. Di Trowulan, kanal-kanal raksasa dalam pola jaringan tampaknya dibuat untuk tujuan ini. Tanah hasil galian kanal sekaligus dimanfaatkan untuk membuat bata. Tapi di Borobudur belum satu pun bangunan keairan ditemukan. Meski candi besar itu dibangun di atas bukit, tetapi para pemukim yang menghuni area bekas danau purba dengan materi dasar lempung hitam yang ber-drainase buruk, pasti menghadapi kendala “kelebihan air”. Apalagi banyak alur-alur sungai purba yang masih berpotensi tergenang pada musim penghujan, terutama di sebelah barat dan selatan candi. Benarkah tidak pernah ada rekayasa hidrologis di Borobudur? atau memang datanya belum ditemukan? Yang jelas kemiripan pola pemilihan tapak di kedua kawasan arkeologis ini dapat dijadikan modal pengembangan Predictive Model melalui pemrograman GIS untuk menemukan situs-situs baru, seperti yang dilakukan oleh tim gabungan The South Carolina of Archaeology and Antrhopology (SCIAA)The Earth Sciences and Resources Institute of the University of South Carolina (ESRI-USC). Tentu saja dengan memperkaya variabel-variabel medan dan spasial, bukan terbatas pada pola aliran saja ~ simak artikel ini: ywn_sig & lansekap_2007

    Tags: ,

« Previous Entries   

Recent Comments

  • Bisa Pak. Nanti saya kirim ke e-mail Bapak. Tapi ya database...
  • Mas Yuwono, saya bisa minta shape file dari data sebaran can...
  • Okay.... Silahkan
  • mas, ijin ngutip ma copy artikelnya ya.. hehe
  • Thanks Pertanyaannya. Itu secara geoarkeologis. Jadi ada upa...