-
-
Tags: arkeologi karstik
-
| author: jse yuwono – arkeologi ugm |
DATA ARKEOLOGIS sedikitnya menempati dua konteks, yaitu KONTEKS SISTEM dan KONTEKS ARKEOLOGI. KONTEKS SISTEM mencerminkan bagaimana suatu benda berperan dalam proses okupasi dan strategi adaptasi, baik terhadap sistem lingkungan (di dalamnya berlangsung proses-proses alam, pemilihan habitat, dan pemanfaatan sumberdaya); maupun terhadap sistem budaya (ide, tingkahlaku, dan materi yang mengatur norma kehidupan suatu masyarakat). Pada saat benda terdeposisi keluar dari konteks “pemakaiannya”, kedudukannya bergeser ke KONTEKS ARKEOLOGI, disusul kejadian-kejadian tafonomi hingga saat ditemukan kembali. Dari KONTEKS ARKEOLOGI inilah rekonstruksi dan eksplanasi atas kondisi budaya dan lingkungan masa lalu dilakukan.Salah satu jenis lingkungan yang pernah diokupasi manusia masa lalu adalah lingkungan KARST yang memiliki karakteristik baik di permukaan (eksokarst) maupun di bawah permukaannya (endokarst). Meskipun secara karstologis keduanya berhubungan, namun secara arkeologis masih jarang dilakukan studi yang mengaitkan konteks sistem ~ konteks arkeologi ~ dan tafonomi dengan fenomena bawah permukaan. Selama ini, relasi antara “dunia” endokarst dengan sistem kehidupan purba di permukaan terkesan lemah. Namun situasi ini kelak akan berubah, seiring dengan semakin banyaknya temuan sisa-sisa (fosil) tulang dan beberapa artefak di aliran sungsi-sungai bawahtanah. Tidak mustahil jika potensi air endokarst juga pernah dijadikan pertimbangan oleh para penghuni awal kawasan karst untuk menentukan lokasi okupasinya.
Keberadaan data arkeologis di aliran sungai-sungai bawahtanah kian mempertegas keunikan dan sekaligus kompleksitas tafonomi di kawasan karst. Eksistensi data semacam itu juga dapat menjalin relasi studi antara arkeologi dengan karstologi (speleogenesis), dengan memperhitungkan serangkaian proses di belahan eksokarst dan endokarst, selama dan setelah kehidupan prasejarah berlangsung [jse yuwono].
-
| author: jse yuwono – arkeologi ugm |
PARADIGMA & TUJUAN ARKEOLOGI
KEDUDUKAN EKSKAVASI DALAM ARKEOLOGI
Unduh di sini: ywn_excavasi_2003
BIAS DATA ARKEOLOGI
KONTEKS & KUALITAS DATA ARKEOLOGI -
| author: jse yuwono – arkeologi ugm |
GEOARKEOLOGI didefinisikan sebagai penelitian arkeologi dengan menggunakan metode-metode dan konsep-konsep dari ilmu-ilmu kebumian (earth sciences). Metodologi ilmu-ilmu kebumian seperti geologi, geografi, geomorfologi, hidrologi, klimatologi, pedologi, dan ilmu-ilmu sejenis lainnya, dengan analisisnya dari tingkat mikro hingga makro, dapat menyumbangkan informasi empiris dan pendekatan-pendekatan konseptual guna memahami konteks masa lalu dan proses transformasinya.Definisi serupa dapat disimak di wikipedia… “GEOARKEOLOGI adalah bagian dari arkeologi yang menggunakan teknik dan bidang perhatian geografi serta ilmu bumi lainnya untuk menguji topik yang memberikan pemikiran dan pengetahuan arkeologi. Ahli geoarkeologi mempelajari proses fisik alami yang mempengaruhi lokasi arkeologi seperti geomorfologi, pembentukan lokasi selama proses geologi dan efek terhadap tempat yang terkubur serta artefak yang telah terkubur. Pekerjaan ahli geoarkeologi seringkali memerlukan penelitian tanah dan sedimen seperti juga konsep geografi lainnya untuk menghasilkan suatu penelitian arkeologi”.
GEOARKEOLOGI membantu arkeolog mulai dari tingkat perancangan penelitian (penentuan sampel lokasi), pekerjaan di lapangan, hingga ke jenjang analisis dan penyimpulan. Dari sudut pandang ini, maka jangkauan ARKEOLOGI dapat diperluas, bukan sekedar ilmu pengetahuan tentang kehidupan manusia masa lalu, melainkan sebagai “ilmu tentang BUDAYA dan LINGKUNGAN masa lalu, beserta proses-proses alamiah dan kultural apa saja yang telah merubah dan mempengaruhi data arkeologi hingga menampilkan kondisi seperti saat ditemukan. Pemahaman akan proses-proses tersebut akan menghindarkan arkeolog dari kesalahan interpretasi atas kondisi data arkeologi yang seringkali “mengecoh”.
Luasnya jangkauan GEOARKEOLOGI telah mengispirasi Butzer (1990), untuk memilahnya ke dalam lima konteks kajian, yaitu Konteks Bentanglahan, Konteks Stratigrafi, Konteks Pembentukan Situs, Konteks Modifikasi Situs, dan Konteks Modifikasi Bentanglahan. Masing-masing konteks memiliki metodologi dan tools tersendiri sesuai dengan keluasan dan kedalaman analisisnya, mulai dari analisis mikro morfologi, tafonomi, hingga spasial & lansekap melalui perangkat GIS.
MATERI KULIAH:
001: ywn_geoark_2009
002:
003:
004:
005:
Tags: arkeologi lansekap










Recent Comments